Oleh Zainal
di Doha, Qatar  

Selain Asian Games ke-15 saat ini di Doha, Qatar juga tengah berlangsung International Marbles Championship 2006, kompetisi kelereng internasional yang diikuti oleh 73 negara. Akan tetapi, atlet andalan Indonesia rupanya gagal membawa pulang medali emas.

Johan Sudibyo, atlet yang berlomba di kategori 0,5 inci (mengacu pada diameter kelereng yang dipergunakan) diharapkan mampu membawa pulang medali emas setelah sebelumnya KONI (Komisi Olahraga Nasional Indonesia) menghabiskan lebih dari Rp 300 juta untuk mengirimnya berlatih ke Amerika Serikat. Sayang sekali ia dikalahkan Sergey Ivanov dari Kazakhstan di babak semifinal hari Rabu (13/12).

“Kekalahannya sangat disayangkan,” ujar manajer tim, Muhammad Aslan, “mengingat dana yang sudah dihabiskan untuk pelatihannya.”

Pelatih tim nasional Indonesia, Sugi Suharto, punya pendapat lain, “Menurut saya, Johan kurang siap secara mental. Sebenarnya dia sudah sangat siap setelah berlatih intensif selama dua bulan di New York. Anehnya, begitu ia melihat lawannya dari Kazakhstan yang bertubuh besar dan berjari lentik itu, ia langsung pucat dan ketakutan.”

Johan kalah telak dari atlet kelahiran Uzbekistan tersebut dan harus menyerahkan semua kelereng miliknya.

Ditemui sesaat setelah meninggalkan arena pertandingan, Johan nampak sangat sedih meski Sergey Ivanov memberikan satu kelereng miliknya sebagai hadiah penghiburan.


Lawan disalahkan

Mengenai kekalahannya, Johan hanya berkomentar, “Maaf, lawan saya berat…” mengikuti karateka Indonesia, Bambang Maulidin, yang berkomentar sama setelah kalah di semifinal Asian Games hari Selasa (12/12).

Mengaku trauma setelah dikalahkan, Johan menjelaskan kalau saja lawannya itu tidak setangguh itu, ia pasti dapat merebut medali emas dan bonus senilai Rp 100 juta yang dijanjikan salah satu produsen kelereng di Indonesia.

“Ia berlatih terlalu keras,” ujar Johan.

Ditemui di tengah persiapan babak final yang akan diadakan besok (Jumat, 15/12), Sergey Ivanov yang telah berkecimpung di olahraga kelereng selama lebih dari 15 tahun mengatakan bahwa kekesalan Johan adalah bukti bahwa ia adalah seorang atlet yang kurang matang.

“Saya salah karena terlalu banyak berlatih? Yang benar saja!”

Sugi Suharto, di lain pihak, mengatakan bahwa Johan memang tidak pernah merasa salah, “Bulan lalu ia membuang satu pak kelereng buatan Italia setelah kukunya patah. Menurut dia, kelereng-kelereng itu terlalu keras. Menurut saya, dia saja yang menyentilnya terlalu keras.”


Masa depan di ujung tanduk

Dengan kekalahan Johan, masa depan olahraga kelereng Indonesia kini berada di ujung tanduk. Muhammad Aslan menyatakan bahwa KONI akan mengadakan rapat sepulangnya tim nasional dari Doha untuk memutuskan apakah alokasi dana untuk olahraga ini perlu dikurangi.

“Sepuluh tahun terakhir tidak ada prestasi,” ujarnya, “dan kami terus mengurangi dana setiap tahunnya.”

Ketika ditanya apakah kurangnya dana tersebut justru bermuara pada turunnya kualitas atlet, ia hanya menjawab, “Maaf, atlet kami kurang mampu…”