Permainan gangsing atau gasing, merupakan salah satu permainan rakyat yang telah lama ada. Permainan ini menonjolkan kekuatan gangsing dan kemahiran memainkannya. Gangsing yang paling lama berputar, itulah yang menjadi pemenang. Sebuah permainan sederhana.


Namun bagi warga Desa Munduk, yang terletak di bagian timur Pulau Bali, tepatnya di Kabupaten Singaraja, gangsing dan permainannya adalah seni, olah raga, sekaligus tradisi yang telah hidup turun temurun selama puluhan tahun.


Suasana keseharian di Desa Munduk yang terletak di keasrian alam kaki Gunung Batur, bisa dibilang tidaklah berbeda dengan desa lainnya. Namun suasana tenang di desa yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup dari menanam pohon cengkeh dan berladang ini, akan segera berubah bila musim mengadu gangsing tiba. Seperti menjelang pelaksanaan perlombaan gangsing pada pertengahan Desember lalu.
Belasan kelompok penggemar gangsing, atau yang biasa mereka sebut dengan nama sekehe gangsing, menyambutnya dengan penuh kegairahan. Bagi warga Desa Munduk, serta lima desa tetangga lainnya, permainan gangsing bukanlah semata-mata untuk sarana hiburan dan menjalin keakraban dengan warga desa lain. Bagi mereka, permainan gangsing yang sudah menjadi tradisi turun temurun ini juga merupakan ajang pertaruhan kehormatan dan martabat.


Persiapan untuk mengikuti lomba, dilakukan oleh masing-masing sekehe, dengan membuat sendiri gangsing yang akan diikutsertakan dalam perlombaan. Namun demikian, tidak setiap orang yang tergabung dalam sekehe gangsing, mampu membuat gangsing. Diperlukan keahlian khusus untuk bisa membuat sebuah gangsing yang bagus, dengan keseimbangan dan kemampuan berputar maksimal.

Misalnya saja dalam sekehe gangsing pasut yang beranggotakan sekitar 50 orang, hanya Komang Kenyat dan Made Sarbe yang dipercaya membuat gangsing untuk menghadapi setiap pertandingan. Bahan baku gangsing biasanya berasal dari batang pohon jeruk Bali pilihan. Setelah itu barulah dengan menggunakan mesin gerinda, bahan baku ini diubah menjadi bentuk gangsing setengah jadi, yang terbagi dalam tiga bagian.


Gangsing setengah jadi ini kemudian dipasangi paksi, yaitu besi khusus yang ditanamkan di bagian bawah gangsing. Paksi, yang dianggap sebagai roh dari gangsing, nantinya akan menjadi tempat tumpuan gangsing berputar. Karena itulah, bagian ini mendapat perhatian yang lebih dibandingkan bagian lainnya. Sehingga perlu dibuatkan alat khusus untuk menghaluskan permukaannya. Permukaan paksi harus selalu dalam keadaan licin, karena bila sedikit saja tergores, laju putaran gangsing akan terganggu.


Tak kalah pentingnya dengan paksi, adalah faktor keseimbangan. Untuk menemukan titik keseimbangan dalam sebuah gangsing, diperlukan kepekaan yang tinggi dari si pembuatnya. Tak jarang sebuah gangsing harus melalui berkali-kali pengujian dengan teknik tertentu, baik diuji dengan putaran tangan langsung, atau dengan menggunakan tali khusus yang terbuat dari anyaman kulit pohon.


Setelah jadi, gangsing-gangsing ini harus segera dimainkan. Lebih dari dua hari saja gangsing tidak dimainkan, maka gangsing tersebut harus dibenahi, dan dicari ulang titik keseimbangannya.


Gangsing yang berkembang di Desa Munduk dan sekitarnya terbagi dalam dua kelompok, yaitu lengisan, atau gangsing yang harus diberikan tambahan minyak agar bisa berputar maksimal, serta lumbaran, yaitu gangsing yang tidak perlu diberi minyak tambahan lagi.


Kini, gangsing telah siap dibawa ke arena pertandingan. Untuk mempertahankan kehormatan dan martabat sebuah sekehe gangsing dimata sekehe gangsing lainnya, serta di mata masyarakat setempat.

Hari yang dinantipun tiba. Sejak pagi, puluhan penggemar gangsing yang tergabung dalam belasan sekehe gangsing dari Desa Munduk dan sekitarnya, telah berkumpul di sebuah arena berbentuk segi empat, yang telah dipersiapkan secara khusus untuk pelaksanaan lomba. Ratusan warga juga tak mau kalah menunjukkan antusiasme, menyaksikan gangsing jagoan mereka berlaga.


Meskipun ini adalah sebuah kompetisi yang mempertaruhkan gengsi, tidak nampak suasana bermusuhan di antara mereka. Sebelum perlombaan dimulai, seluruh gangsing milik peserta diukur satu persatu oleh panitia lomba. Setelah itu dilakukan peragaan permainan gangsing, menggunakan 2 buah gangsing yang usianya lebih dari 30 tahun.


Gangsing yang diperagakan ini, adalah gangsing jenis lengisan. Yakni gangsing yang membutuhkan bantuan minyak pelumas, agar kemampuan berputarnya lebih lama. Konon bisa mencapai belasan menit. Sedangkan gangsing yang diperlombakan adalah gangsing jenis lumbaran. Tidak memerlukan bantuan minyak pelumas untuk dapat berputar maksimal.


Tibalah saatnya beradu. Sekehe gangsing Bulakan dari Desa Munduk dan sekehe gangsing Sukajati dari Desa Gobleg. Masing-masing bersiap, melilitkan tali pemutar pada bagian kepala gangsing mereka masing – masing. Agar mendapatkan putaran yang lama dan kuat, tali harus dililitkan dengan sangat hati – hati, sepenuh tenaga.



Gangsing milik kelompok yang paling lama berputar, berhak menjadi kelompok pemukul, sebaliknya, gangsing milik kelompok yang berhenti berputar terlebih dahulu, menjadi kelompok yang dipukul. Dalam kesempatan pertama ini, sekehe gangsing Sukajati berhasil menjadi pihak pemukul, setelah gangsing mereka berputar lebih lama dibandingkan gangsing milik sekehe gangsing Bulakan. Setelah itu, barulah adu gangsing antar kelompok ini benar-benar dimulai, yang akan berlangsung selama 2 setengah jam.

Atraksi saling hantam gangsing benar-benar menegangkan, karena begitu gangsing terlepas dari tali yang mengikatnya, tidak seorangpun yang bisa memprediksi arah pergerakannya. Disinilah kemampuan seorang pemutar gangsing pemukul dibuktikan, karena selain membutuhkan kekuatan besar untuk memutar gangsing, juga dibutuhkan strategi untuk memukul bagian tertentu dari gangsing, agar bisa menghentikan laju putaran gangsing lawannya.


Akibat kuatnya hentakan yang dilakukan pemukul, sering terjadi gangsing yang dipukul terbelah dua, atau rusak di bagian-bagian tertentu, sehingga tidak dapat digunakan lagi. Namun bila pemukul gagal menghentikan laju gangsing yang dipukulnya, hal itu dapat membuat keadaan berbalik. Dan bila hal ini terjadi, akan sangat merugikan bagi kelompok mereka.


Adu gangsing ini akan berlangsung selama dua setengah jam, yang dibagi dalam beberapa babak. Satu babak akan berakhir, begitu nilai sepuluh tercapai. Kelompok pemukul biasanya punya kesempatan lebih baik mengumpulkan angka. Karena sebagai pemukul, mereka memiliki kesempatan menghentikan laju putaran gangsing lawannya. Namun bila kelompok pemukul melakukan kesalahan atau tidak berhasil menghentikan laju putaran gangsing milik kelompok yang mendapat giliran dipukul, maka keadaan akan berbalik.


Saling membalikkan situasi, merupakan salah satu daya tarik tersendiri bagi para penonton, yang berharap agar gangsing jagoannya memenangkan pertandingan. Aturan permainan tersebut bisa dibilang tak pernah berubah, sejak permainan rakyat ini dilombakan puluhan tahun silam.

Setelah melalui beberapa kali pergantian posisi, antara pemukul dan yang dipukul, akhirnya sekehe gangsing Bulakan, yang berasal dari Desa Munduk, memenangkan pertandingan perdananya, dari serangkaian pertandingan gangsing yang masih akan berlangsung.


Walaupun ini adalah pertaruhan sebuah martabat, kekalahan yang dialami sekehe gangsing Sukajadi, tidak menyebabkan tumbuhnya dendam, melainkan akan memacu sekehe Sukajadi, untuk memperbaiki gangsing dan teknik permainan mereka. Sehingga permainan yang sarat dengan nuansa tradisi dan seni ini akan terus terpelihara, tidak menghilang seperti sebagian besar permainan tradisional rakyat Indonesia, yang kini tidak lagi dikenal oleh generasi mudanya.(Idh)

sumber : http://www.indosiar.com/ragam/39234/gangsing–antara-gengsi-dan-permainan